Headlines News :
Home » , , , , » tasawuf dan agama

tasawuf dan agama

Written By MAHRUSIN on Sabtu, 19 Mei 2012 | 04.25


Esensinya, tasawuf itu sudah ada pada masa Rasulullah Saw. Namun pada masa tersebut belum dikenal istilah tasawuf. Yang dikenal pada masa tersebut adalah para Shahabat sebagai pengikut Nabi, kemudian para pengikut Shahabat yang dikenal dengan istilah Tabi’in, begitu pula seterusnya. Menurut R. A. Nicholson bahwa istilah tasawuf muncul dan baru dimulai pada pertengahan abad III H. oleh Abu Hasyim al-Kufy (w. 250 H) dengan meletakkan al-sufi dibelakang namanya. Nicholson juga mengatakan bahwa ada ahli yang mendahuluinya dalam zuhud, wara’, tawakkal, dan dalam mahabbah, namun dia adalah yang pertama kali diberi nama al-sufi.[1]
Sebagaimana yang telah diajarkan Nabi, beliau menampilkan dua aspek dalam kehidupan beragama. Yakni aspek eksoteris (lahiriah) dan aspek esoteris(batiniah)[2]. Pertama, dari aspek eksoteris meliputi ibadah dalam pelaksanaan syariat Islam, seperti kewajiban shalat, puasa, zakat, haji, dan jihad fi sabilillah[3]. Aspek ini lebih cenderung pada hal-hal yang bersentuhan dengan keduniaan. Semisal dalam hubungan sosial kemasyarakatan.
Kedua, dari aspek esoteris. Yang dalam Islam disebut dengan tasawuf mengajarkan perbuatan hati, seperti sabar, ikhlas, sederhana, jujur, adil, dan sebagainya. Perbuatan hati ini bersifat universal melintasi batas-batas agama[4].  Disadari atau tidak, selama ini orang-orang lebih mementingkan aspek eksetoris dari pada aspek esoteris karena penyiaran agama selama ini acap kali  menekankan aspek eksetoris.
Untuk menyeimbangkannya, orang perlu bertasawuf. Dalam artian, perlu memandang tasawuf supaya tidak berpuas diri dengan aspek eksetoris ibadah saja. Karena, jika hanya dengan aspek ini saja  tidak cukup untuk mewujudkan Islam yang kaffah (paripurna). Islam yang kaffah diwujudkan dengan menghayati aspek esoteris ibadah dan pengalaman praktik tasawuf pada umumnya. Dengan demikian, tasawuf juga dapat merukunkan orang-orang yang berbeda agama atau aliran dalam agama.
Dari pemaparan di atas, kita akan tahu urgensi tasawuf sebagai penyeimbang antara aspek eksoteris dan aspek esoteris serta hubungan vertikal dengan hubungan horizontal.


[1] M. Amin Syukur, Menggugat  Tasawuf, pustaka belajar, Yogyakarta:1999  hlm. 7
[2] Sudirman Tebba, Tasawuf Positif,  Kencana,Bogor: 2003 hlm. 120
[3] Said Aqil Siroj, Tasawuf Sebagai Kritik Sosial, PT Mizan Pustaka,Ciganjur :2006  hlm. 28
[4] Sudirman Tebba, Tasawuf Positif, Kencana,Bogor: 2003  hlm. 120
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. MAHRUSIN' BLOG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger